Hampir dua minggu sejak Jepang
Dan tidak, saya tidak merasa seperti seseorang yang pulang dari perantauan, justru sebaliknya, seperti orang yang berada di perantauan. Ada perbedaan signifikan antara rasa keterasingan di sini dan di sana. Paling tidak, keterasingan di sebuah negeri yang pertama kali saya kunjungi, yang bahasanya tidak saya mengerti, dan dengan orang-orang dari tempat-tempat lain yang mempunyai persepsi sama tentang negeri ini, dapat dianggap sebagai kewajaran. Tetapi merasa terasing di tempat yang telah kau kenal cukup lama, dengan orang-orang yang juga kau kenal baik, bukanlah sesuatu yang masuk akal, tetapi itulah yang terjadi. Ada kalanya orang-orang yang kita temui dalam waktu singkat lebih berkesan daripada orang yang kita kenal bertahun-tahun. Untuk itu saya tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak mereka yang di sini, tidak mereka yang di sana, dan tidakpun saya sendiri, karena saya capek menuduh diri saya akan hal-hal abu-abu seperti ini. Yang tersisa adalah bayang hari-hari yang lalu, yang melukiskan senyum dan menggelakkan tawa, diantara kehambaran hari-hari yang sekarang, diantara semangat hidup dan makna kebersamaan yang terus memudar bagaikan pakaian berwarna yang direndam dalam pemutih pakaian.
Sekali lagi, saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atas ketidakmampuan saya untuk me-relate kepada “kawan-kawan” saya di sini. Mungkin memang pola pikir saya yang berubah, dan untuk itu saya tidak ingin mengubahnya, karena terlalu banyak memakan energi dan emosi, tanpa hasil yang kongkret, serta dengan segala sesuatu yang belum pasti. Dan kemungkinan besar juga not worth it.
Saya hanya menyesal, di sini saya tidak bisa lagi tersenyum, tidak lagi bisa tertawa, karena saya tidak sepemikiran dengan mereka. Ah, saya telah menciptakan sedikit kesombongan di dalam diri saya, bahwa saya lebih merasa nyaman diantara orang-orang dari negara yang berbeda-beda, daripada orang-orang yang sesuku. Di dalam lubuk hati, saya tahu seharusnya saya merasa bersalah, tetapi ketimpangan yang saya abaikan selama ini menyeruak, dan menyadarkan bahwa saya selama ini hidup untuk menyeimbangkan diri dengan orang lain, namun mengabaikan apa yang sebenarnya saya inginkan.
Sebut saya egois, sebut saya narsis, namun dalam kesendirian seperti ini, hanya itulah opsi yang menguntungkan, daripada menjadi submisif dan mengemis perhatian orang lain dan menjatuhkan harga diri yang sudah terlanjur rendah di mata sendiri.


